Sunday, December 22, 2024

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng-update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum ada yang ingin kuceritakan di sini. Hanya sedikit mengubah tema yang sembilan tahun ini tak pernah berganti. Mungkin bila nanti ada sesuatu yang ingin kubagi, aku akan datang lagi.

Dua tahun belakangan ini aku sering ikut event menulis di instagram. Beberapa diantaranya dapat bonus dibukukan di antologi kalau berhasil menyelesaikan tantangannya. Mungkin lain waktu akan kuceritakan di sini. 

Atau mungkin akan kuceritakan lagi perjalanan menyenangkan yang belum sempat kuceritakan. Atau apapun itu. Mari kita menghitung hari.

Thursday, November 5, 2015

Life is...

Beberapa tahun kemarin, komunitas penggemar sepeda semakin banyak ditemui.  Kalau di Jakarta ada komunitas bike to work, teman-teman kerja angkatan saya punya komunitas CintaPITRI (pecinta pit-pitan Republik Indonesia).
 
Sebenarnya, saya tidak akan menulis tentang komunitas pecinta sepeda. Saya hanya ingin bercerita tentang sepeda. Lebih tepatnya, merangkum dua kisah tentang sepeda. Kisah yang beberapa saat lalu mengingatkan saya, menyemangati saya untuk terus bergerak maju mendekati akhir perjalanan-dua-tahun yang dituju.
 
Life is like riding a bicycle
 
Pagi itu, saya membereskan rak dan lemari. Saya menemukan sebuah tas, souvenir pernikahan putrinya Pakdhe di Jakarta. Tas dari kain belacu bertuliskan sebuah kutipan yang sering menjadi status facebook atau BBM-nya teman-teman.
Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving”.
Kehidupan itu seperti mengendarai sepeda roda dua, untuk menjaga keseimbangannya kita harus terus bergerak. Ketika pedal tidak dikayuh maka kita dan sepeda akan terjatuh. (Kecuali kita berada di jalan yang menurun, atau kita pasang standar penyangganya. Hehe..)
 
Saat bersepeda bersama-sama rombongan, semestinya kita menyamakan ritme dan kecepatan agar bisa bersama-sama tiba di tujuan. Jika kita terlalu lambat mengayuh atau terlena saat mengusap peluh, maka kita akan tertinggal dari yang lain, kecuali kita bisa mengejarnya secepat angin. 
 
Kecepatan terkadang dipengaruhi oleh sepeda yang dikendarai. Kecepatan sepeda balap tentu tak sama dengan kecepatan sepeda biasa. Padahal, sepeda punya bermacam-macam jenis, merek, warna, model, harga dan sebagainya. Meskipun begitu, mengendarai sepeda yang sama tidak serta merta menjadikan kecepatan kita sama. Semua kembali pada kemampuan dan kemauan kita yang mengendarainya.
 
Life is a long distance race
 
Waktu itu, Juni 2015 hampir berakhir. The Return of Superman episode 83 tayang di waktu yang tepat. Meskipun saya menonton tayangannya terlambat, tapi saya membaca reviunya sebelum momen terlewat. Menenangkan, menguatkan hati dan pikiran. Segmen ketiga dan ketujuh di episode itu bercerita tentang balita-kembar-tiga-favorit-saya yang diajak ayahnya mengikuti lomba triathlon (renang, bersepeda, dan marathon) di lingkungannya. Si ganteng Daehan menemani ayahnya berenang, si cute Minguk menemani bersepeda, dan si tengil Manse ikut maraton.
 
Pada saat bersepeda, Mr. Song mulai tertinggal jauh dari peserta lainnya, namun dia tetap berbahagia dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pertandingan karena dukungan tiga balita kembarnya. Dia pun berkata kepada si cute yang duduk di kereta belakang sepedanya: 
“Tidak apa-apa kita tertinggal di belakang, karena pengalaman berharga juga akan tertinggal untuk kita kenang.”
Dalam wawancaranya, Mr. Song berkata:
“Ketika bersepeda, saya memang sedikit lambat. Banyak orang yang mendahului kami. Begitu juga dengan kehidupan yang saya jalani. Banyak orang yang melampaui saya. Tapi kita semua tahu, memang begitulah kehidupan. Terkadang kita memimpin di depan dan terkadang harus tertinggal jauh di belakang. Menjadi yang terdepan maupun yang tertinggal, jangan sampai membuat kita pongah ataupun menyerah. Itu yang ingin saya tunjukkan kepada anak-anak saya. Life is a long distance race and it’s not an easy job to complete the race.”
-o0o-
 
Akhirnya, syukur alhamdulillah untuk dua tahun terakhir yang penuh pengalaman berharga, yang akan tertinggal di hati dan kepala. Untuk semua yang terus mendukung dari garis finish, yang selalu memberikan senyuman termanis, yang setia mendengar curah hati dan mengusap tangis, yang memandang dari kejauhan dengan miris, maupun yang diam-diam mendoakan di bawah gerimis:

terimakasih, maturnuwun, kamsahamnida, dan jazakumullahu khairan katsira
 
Garis finish telah berada di depan mata, apakah pertandingan telah sampai pada akhirnya? Tentusaja... belum apa-apa. Masih panjang lintasan di depan yang harus dilalui dan ditaklukkan.
Don’t brag and don’t give up. Ganbatte!! ^_^v
 
~ Hari kelima lebaran 2015, sebuah catatan untuk diri sendiri ~ 
~ Special thanks to my MarS RAIN, Star 35, dan trah PeKaDe ~

Tuesday, October 14, 2014

Day 2: Sightseeing and MRT Travelling

Part 3 of 3

Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami berencana ke Merlion Park dan Marina Bay sebelum ke Sentosa. Dan kami akan mencoba naik MRT yang telah kami pelajari petanya semalam sebelum tidur. Menurut peta stasiun terdekat dari hotel kami adalah Aljunied atau Mountbatten. Tapi kami tidak menemukan jalur bis menuju kesana. Akhirnya kami naik bis jalur 51 ke Bugis (yang jalurnya lewat di bus stop lorong 18 dan berangkat dari Stasiun Bugis (ngga tahu muter-muter jauh atau ngga, yang penting enjoy the trip, dan sampai tujuan).

STASIUN BUGIS - MERLION PARK

Note #3.1: Jangan lupa, ambil peta MRT di stasiun ini, akan sangat sangat membantumu mencapai tempat yang dituju, meski harus muter-muter dulu

Kami berjalan sebentar dari bus stop menuju ke stasiun, berfoto sesaat dan turun ke underpass. Karena tidak memiliki EZLink, kami mencari mesin penjual tiket. How does it works? Pilih stasiun tujuan (kami pilih Rafles Place), untuk tiga orang. Dan mesin akan menunjukkan berapa dolar yang harus dibayar. Bayar dengan uang kertas, masukkan ke tempat uang, tunggu tiket dan kembaliannya keluar.

Note #3.2: Kalau ngga mau rugi karena ngga punya EZLink, sediakan uang kertas pecahan kecil $2 dan $5 dalam jumlah yang cukup. Karena mesin ini hanya mau memberikan kembalian maksimal sebesar 4 cent.

Tap tiketmu di mesin untuk membuka gate. Menurut hasil diskusi kami semalam kami akan naik jalur hijau dan turun di Rafles Place, dan itupun yang kami pilih ketika membeli tiket. Tapi karena belum begitu paham cara membaca peta MRT maka kami bertanya lagi ke petugas di sini, ternyata mereka menyarankan kami naik jalur biru turun di Promenade ganti jalur kuning ke Esplanade. Ketika sampai di Esplanade dan akan keluar dan men-tap tiket, gatenya tidak mau terbuka. Ow ow... ternyata kami kurang bayar, karena berbeda dari tujuan semula, dan harus membayarnya kepada petugas di loket yang ada. Keluar dari gate kami mencoba berjalan tetapi tak berhasil menemukan petunjuk arah ke Merlion Park. Akhirnya ketika kami keluar ke atas, kami menemukan gedung Esplanade di depan kami. Tapi kami tak yakin harus mengambil arah yang mana. Akhirnya kami bertanya kepada the only one yang lewat di sana. Dan mengatakan kalau itu jauh dan kami harus naik bus untuk menuju ke sana. Kami pun berjalan menuju bus stop di dekat sana, dan di papan di bus stop tak menemukan jalur bus ke arah sana. Akhirnya kami berjalan saja di trotoar yang seperti milik kami bertiga. Entah, apakah ini karena masih terlalu pagi ataukah karena memang semua orang berjalan di bawah tanah. Berjalan mengitari Marina Square, akhirnya kami menyerah dan menuju ke taxi stand, dan meminta mengantarkan kami ke Merlion Park dengan membayar $6.

Di Merlion Park ternyata sudah ramai sekali pengunjungnya. Harus mencari sela-sela hanya sekedar untuk bisa berfoto bersama landmark terkenal di Singapura ini. Tak berlama-lama kami pun berjalan ke Esplanade, gedung pertunjukan yang berbentuk durian di seberangnya. Masuk ke dalam mencari stasiun MRT.

STASIUN ESPLANADE – MARINA BAY SANDS DAN GARDEN BAY THE BAY

keliling negeri singa dalam sehari
dengan MRT-nya yang sangat menyenangkan
(lagi seneng pakai aplikasi instamag)
Kami beli tiket di Esplanade menuju ke Bayfront setelah transit di Promenade. Dan segera mencari jalan keluar. Gedung Marina Bay Sands yang terkenal itu di sisi kiri ujung tangga keluar yang cukup tinggi ini. Dan di sisi kanan kita melihat Supertree dari kejauhan. Kami berjalan menuju ke Supertree dan berhenti untuk berfoto dengan background MBS, dilanjutkan duduk di tepi telaga menikmati Supertree of Garden By The Bay di depan kami. Windi tampak tak sabar menuju mendekati Supertree, sementara saya terhenti saat menemukan view Singapore flyer di kejauhan. Mba Madya masih asyik di belakang berselfie dengan tabnya saat Windi sudah berada di ujung jembatan, dan saya di tengah-tengahnya. Aah... sebenarnya pengen menjelajahi Garden By The Bay tapi waktunya ngga cukup karena kami harus segera menuju ke USS.

STASIUN BAYFRONT – RESORT WORLD SENTOSA

Dari Bayfront kami naik jalur biru lalu pindah jalur ungu di Chinatown menuju ke Harbourfront.  Ada beberapa cara menuju Sentosa jalan kaki, naik bus, cable car, atau Sentosa express. Kami memilih yang terakhir. Segera saja kami menuju ke Vivocity lantai tiga. Escalator penuh dengan orang yang akan menuju Sentosa. Hm... pernah mendengar kalau kecepatan berpikir seseorang bisa dibaca dari cara mereka berjalan? Di sana disediakan fasilitas eskalator atau travelator tetapi mereka tetap saja berjalan cepat di atasnya. Saya? Terlalu banyak bersantai dan menunda (last minute fighter). 

Note #3.3: Ketika menaiki eskalator, jangan berjajar, tetapi merapatlah ke sisi kiri.  Karena sisi kanan disediakan untuk mereka yang terburu-buru dan ingin mendahului.

Sampai di lantai tiga ternyata antrian sudah sangat panjang sekali. Kami langsung saja ikut mengantri, hingga sampai di tengah-tengah kami menyadari bahwa yang mengantri adalah mereka yang telah memiliki tiketnya. Oh no... masak iya kami harus mengantri dari awal lagi. Setelah bertanya ke petugasnya, ternyata tiket dibeli di loket depan, dan si bapak membukakan pagar antrian agar kami bisa keluar membeli tiket. Tak perlu mengantri lagi, kami langsung ikut berlari ketika gate dibuka. Windi nyaris berlari dan meninggalkan tiket dan uang kembaliannya. Haha...

UNIVERSAL STUDIO SINGAPORE

Setelah menyeberang selat, akhirnya sampailah kami di Sentosa, tak mau mengulang kesalahan yang sama, kami mengambil peta RWS dan USS, dan bersegera mencari USS yang pastinya sudah sangat ramai karena hari sudah siang. Setelah men-tap tiket ke mesin segera saja kami menjelajahi USS yang sangat luas ini.
Ada beberapa wahana di sini. Kami mengunjungi berikut ini:
Transformer The Ride, setelah mengantri hampir sejam akhirnya kami mengalami petualangan seru menaiki autobot dengan kacamata 4D.
Sci-Fi, roller coaster ini sedang tidak beroperasi kami melewati di bawahnya menuju ke prayer room
Ancient Egypt, sampai di sini Windi tampaknya mulai merasa lapar dan bersegera mencari tempat makan di
Mel’s Drive, makan menu halal burger dan french fries menggunakan meal voucher kami, sambil menonton street performance di Hollywood
Melewati Madagascar yang nampaknya juga antri cukup panjang dan langsung menuju ke
Far Far Away, tapi hanya berfoto-foto dan melewatkan pertunjukan 4D dan Donkey Show (yang katanya bagus) karena antrian yang panjang
Jurassic Park, kali ini tak peduli antrian kami tetap masuk ke sana. Dan benar saja antriannya sangat panjang. Beruntung kami sudah di dalam ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras. Ternyata kami akan naik perahu untuk mengunjungi para dino. Ada persewaan loker untuk menyimpan barang yang dikhawatirkan akan basah atau beli jas hujan seharga $4 padahal cuma plastik macam mantel Rp 3000an yang dibeli ibu di pasar (haha...  peliit). Akhirnya tiba giliran kami naik perahu dengan tetap membawa tas kami dan tanpa memakai jas hujan (ngeyel...). Satu boat berisi 9 orang. Kami bertiga, seorang single rider, sepasang kekasih orang Jepang, dan tiga Korean chingu. Awalnya perjalanan aman, tidak terlalu basah pula, hujan pun sudah reda. Hingga tiba di ujung tiba-tiba boat kami diangkat ke atas dan jeng-jeng .... boat kami dipaksa menuruni turunan untuk menuju finish yang dengan sukses membuat kami bertiga yang tidak memakai jas hujan menjadi basah kuyup.

Keluar dari sana kami kembali tiba di Ancient Egypt. Sebenarnya mba Madya mengajak masuk, tetapi saya masih ragu antara ya dan tidak. Secara antrian panjang dan baca deskripsinya kok kayaknya horor gitu. Dan berakhir dengan keputusan tidak.

Kembali ke Transformer The Ride melihat-lihat merchandise yang ada. Baju yang masih basah diterpa dinginnya AC membuatku ngga kuat berlama-lama di dalam. Aku pun keluar dan menunggu mba Madya dan Windi di Broadway Avenue. Kemudian kembali ke bagian depan dan saat mba Madya masuk toko merchandise di sana, saya dan Windi duduk menunggu di depannya melihat karakter Frankenstein yang laris diajak berfoto pengunjung. Setelah itu kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan di USS meskipun tak semua wahana belum kami jelajahi.

Kami pun segera keluar. Padahal matahari masih bersinar. Hihi... Tak apalah... semoga masih ada lain hari ...

Note #3.4 : Bener cerita semua orang, luangkan waktu seharian penuh di USS dan datanglah pagi-pagi. Karena banyak wahana yang akan panjang antriannya kalau kita terlambat ke sana. Alih-alih bergembira, malah galau di sepanjang antrian.

Note #3.5: Kalau ga mau antri bisa nambah $30 untuk VIP pass (kalau saya tetep milih antri saja. ^^v), atau bisa mencoba menjadi single rider pada wahana yang menyediakan pilihan tersebut.

SENTOSA - LITLLE INDIA

Sebenarnya mau ke Mustafa, dan informasi yang terekam di kepala hanyalah letaknya di seputar Little India. Jadi dari Sentosa, ke Harbourfront kemudian naik jalur ---- ke Litle India. Mba Madya yang kakinya terluka akibat sandal oranyenya, kuajak bertukar dengan sepatuku yang nyaman banget ini (peace, Wind!), siapa tahu bisa mengurangi penderitaan kaki mba Madya (haha..). Tanpa tahu arah setelah kami keluar dari stasiun langsung mengikuti langkah kaki yang membawa kami ke Tekka. Ya, sesuai namanya, Little India, tempat ini penuh dengan orang-orang India. Mba Madya nampak terpesona dengan toko emas yang bertebaran di sana. Berjalan lumayan lama tak juga menemukan Mustafa dan tak juga ingin bertanya kepada siapa-siapa dan membiarkan kaki yang menentukan jalannya.

Kami menuju ke bus stop yang ternyata tak ada jalur yang bisa membawa kami ke Bugis. Mba Madya duduk-duduk sejenak di bus stop mengistirahatkan kakinya. Tiba-tiba Windi melihat logo stasiun MRT di depan sana. Akhirnya kami putuskan menyeberang. Belum sampai di lokasi, kami menemukan Litle India Arcade, dan membelok ke sana. Windi kembali hunting oleh-oleh untuk kakaknya. Dan saya sudah cukup bahagia dengan melihat sepatu-sepatu cantik di sana. Meski yang saya yakin yang ternyaman tetap sepatu saya (haha...).Setelah puas dan memperoleh yang dicarinya, kami pun beranjak. Sebenarnya saya pengen ke Orchard Rd, bukan berbelanja hanya melihat suasana di sana saja, tapi tampaknya Windi keberatan. It’s oke, kalau tak bisa ke sana, at least saya ingin mencoba es potong yang katanya enak itu, kalau tak di Orchard di mana? Hmm... Mba Madya ngajak ke Bugis saja. Dan... baiklah, bukankah di sana ada penjual es potong itu kan? Tapi... Windi yang sudah lelah tampak tidak antusias dengan ide ini. Dan akhirnya dia berkata, ”Oke kita ke Bugis, tapi aku nunggu di bus stop nya saja”. Deal.

LITTLE INDIA - BUGIS

Dengan pelan-pelan, kami kembali menuju stasiun MRT Little India. Dari sana kami menuju ke Stasiun Bugis. Dan menuju ke Bugis Junction dan menyeberang ke Bugis Street. Windi langsung menuju bus stop untuk menunggu kami di sana. Hmm... kutawarkan french fries-ku tadi siang, yang masih kusimpan di dalam tas untuk menemani penantiannya. Mba Madya kembali asyik mencari Hershey, aku melihat-lihat di kios sebelahnya. Setelahnya kami langsung mencari es krim potong yang ditunjukkan Mr. Lim di depan sana. Dan ternyata masih buka. Dengan harga $1, aku minta rasa raspberry dan Mba Madya ... aku lupa. Lalu kami duduk di sana, menghabiskan es, sambil mengistirahatkan kaki.

Setelah es habis, kami segera ke bus stop tempat Windi menanti, bertepatan dengan jalur 63 yang datang menjemput kami. Kami turun di Yiu Xiu Building, dan kembali menyusuri jalan yang sama, hanya saja kami tak langsung ke lorong 14 tetapi mampir ke Bilal Indian Muslim Restaurant membeli makan malam. Aku dan Windi memesan takeaway Nasi Biryani yang ternyata porsinya besar sekali. Mba Madya pesan apa aku lupa, dan masih tambah martabak. Hmm...  Segeralah pulang ke hotel lalu mandi, sholat, berhitung, ber-wifi ria mengontak keluarga dan packing saudara-saudara! Ya, besok sudah saatnya kembali lagi. Wawawa... time flies too fast.

PULANG

Pagi-pagi hari ketiga, kami check out dari hotel dan berjalan menuju ke ujung lorong 14. Langit masih gelap ketika akhirnya ada taxi yang berhenti dan bersedia mengantar kami ke bandara. Dan tak berapa lama sampailah kami di bandara untuk check in. Ngga ada masalah apapun. Hanya sedikit terganggu dengan kejudesan petugas check in nya (yang berbahasa Melayu). Setelah urusannya selesai kami pun segera menuju ke imigrasi, yang tidak terlalu ramai, dan berjalan dengan sangat lancar tanpa masalah apapun. Sebelum menuju ke ruang tunggu, kami menunggu mba Madya membeli pesanan temannya. Karena belum waktunya boarding kami pun duduk terlebih dahulu. Setelah beberapa saat akhirnya kami masuk melalui security check terlebih dahulu. Dan lagi-lagi, setelah aku dan mba Madya lolos dengan amannya, Windi terpaksa merelakan body butter Bodyshop nya (sabar ya Win... ^^v). Tak terlalu lama menunggu kami pun akhirnya bergegas menuju pesawat yang akan membawa kami pulang. Bye Singapore!


Tuesday, September 23, 2014

Day 1 - Arrived Safely At Singapore

Part 2 of 3


Minggu siang... Alhamdulillah, pesawat kami tiba dengan selamat di Changi. Langsung dapat sms promo paket roaming dari Telkomsel. Saya segera memberi kabar orang rumah dulu bahwa sudah tiba di negeri orang dengan selamat. Kena Rp 5.000/sms.
Bandaranya cantik. Mampir dulu ke toilet yang ternyata antri. Sambil nyari-nyari water tap buat isi botol minum, tapi ngga ketemu, padahal ternyata persis di sebelah pintu. Berhubung kami bertiga sama-sama belum pernah ke sini, kami asal mengikuti saja orang-orang yang tadi satu pesawat dengan kami naik skytrain menuju T2 ke bagian imigrasi. Ramainya... Deg-degan... teringat pak Roso yang katanya sempat kena random check dua tahun lalu yang memakan waktu pemeriksaan yang sedikit lebih lama. Tiba giliranku... alhamdulillah... aman-aman saja. Cuma say hi, lihat muka, scan paspor, dicap visit pass, lembar embarkasi kedatangan diambil dan potongan lembar kepulangan diserahkan bersamaan dengan paspor, selesai.

Note #2.1. Simpan baik-baik potongan lembar embarkasi tersebut, jangan sampai hilang karena nanti akan diserahkankan kembali di imigrasi ketika meninggalkan Singapura.

Saatnya mencari McD untuk ketemu mas Rully (suami mba Darling), ngambil pesanan tiket USS kami. Setelah ketemu, dan ngobrol sebentar, mas Rully pamit duluan. Berhubung merasakan lapar, kami memutuskan sekalian saja makan di sini, dan habis sekitar $4,9.

Awalnya kami merencanakan naik MRT, tapi kata mas Rully, hotel kami, jauh dari stasiun MRT. Akhirnya kami putuskan naik taxi saja dari sini. Dan untuk itu kami harus antri di taxi stand. Dan setiap jenis antrian di sana ada jalur prioritas bagi lansia, expectant mother, dan difabel. Tiba gilirannya kami pun masuk taksi menuju ke Geylang. Here we go... Wawawa... rapinya jalanannya nggak ada semrawut reklame, baliho, dan spanduk-spanduk promosi di sepanjang jalan. Hingga tibalah kami di Fragrance Hotel – Pearl  dengan biaya taxi $17. Mba Madya dengan sigap segera ke resepsionis yang ternyata bisa berbahasa melayu. Setelah selesai urusan check-in segera kami masuk kamar, unpacking, beberes, shalat, dan ready to go...

Mr. Lim yang Baik Hati

Keluar dari hotel, rencana awalnya kami mau langsung ke Merlion Park dan sekitarnya. Tak tahu ke mana arahnya sementara smartphone ngga bisa leluasa akses Google map karena ga beli paket data roaming yang Rp 150.000/hari. Dan parahnya malah melupakan hal penting berikut ini:

Note#2.2: Ambil peta gratis di Changi. (Kok bisa lupa ya?Padahal ada kata gratis di depannya?)

Akhirnya kami berjalan keluar dari lorong 14, berencana mencegat taksi lagi. Tapi tak berhasil menghentikan satu taksi pun. Atau harusnya di taxi stand ya? Windi mengajak ke Bugis street saja dulu. Yo wis, yuk! Akhirnya dia bertanya ke uncle di dekatnya. Dan menyarankan kami naik bus saja, karena taksi too expensive for student macam kalian (haha...).  Kami berjalan ke lorong 18, tempat bus stop berada. Banyak orang di sana. Kami mencoba membaca rute dan jalur bus yang ada, tapi tak mampu memahaminya. Kemudian mondar-mandir tak jelas. Hmm... Akhirnya Windi kembali bertanya Bugis street ke orang India di sebelahnya, sayangnya dia bilang ngga tahu dan langsung berlalu. Tapi... Tiba-tiba orang chinese di sebelah orang India ini bertanya ke kami (yang terlihat kebingungan kali ya?):

“Are you looking for direction?”, ujarnya
“Yes...”, jawab kami kompak bak paduan suara

Kemudian dengan bahasa Inggris Singapura, Bapak ini menunjukkan jalur bus untuk ke Bugis Street, bisa 51 atau 63. Bayar bisnya bisa pakai EZLink atau cash, dengan cara memasukkan uangmu ke kotak di sebelah pak sopir.

Note #2.3. Jika ngga punya kartu EZLink untuk membayar bus, siapkan selalu uang pecahan kecil untuk membayar secara cash, karena pak sopir ngga akan pernah ngasih kembalian. Ambillah karcis yang keluar, dan simpan, sewaktu-waktu ada inspektur yang menanyakan. 

Jalur 51 berhenti di depan kami dan kami pun masuk ke dalam bus tingkat ini, Mba Madya menyerahkan dolarnya ke pak sopir, dan dengan polosnya aku tidak membayar karena tadi nitip $35 ke mba Madya, karena berpikir akan lebih gampang bayar yang kecil-kecil sekalian dari dompet yang sama tanpa harus menyiapkan pecahan yang banyak (*freerider *beralasan). Tetapi pas udah turun ternyata mba Madya bilang kalau aku ngga bayar bus, karena ternyata Windi dan mba Madya masing bayar sendiri-sendiri. Haha... Tapi kok tiketnya dapat empat? Ya sudahlah, anggap saja rejeki saya hari ini. Hihi...Okelah, berarti Nink, yang berikutnya bayar sendiri ya, siapkan recehanmu.

Dan ternyata bapak yang akhirnya kami tahu bernama Mr. Lim, naik bis jalur ini juga. Dia mengajak kami naik ke lantai atas bis. Dan menerangkan berbagai hal. Dan ketika hampir tiba di bus stop...

Note #2.4: Pencet tombol stop pada tiang terdekatmu. (by: Mr. Lim). Ngga perlu mukul-mukul koin ke jendela dan bilang kiri-kiri ke pak sopir ...

Mr. Lim bilang, kali ini dia akan ikut turun di Bugis dan menunjukkan tempat-tempat di sini ke kami. Owh, thank you Mr. Lim. That’s kind of you. Dari bus stop ini, kami menyeberang jalan ke Bugis Junction. Ketika menyeberang ...

Note #2.5: Kalau sendirian, jangan lupa pencet tombol di traffic light atau kamu akan menunggu lampu merah hingga jamuran. Kecuali ada banyak orang, kamu bisa tinggal ikut-ikutan. Tapi jangan lupa lihat timernya untuk menentukan kecepatan langkahmu. (by: Mr. Lim)

Di Bugis Junction yang bersebelahan dengan Intercontinental Hotel Singapore, kami menyeberang satu jalan lagi menuju Bugis Street, pasar malamnya Bugis, ada macam-macam oleh-oleh di sana. Dari gantungan kunci hingga cokelat. Di ujungnya Mr.Lim menunjukkan foodcourt dan tempat makan, mana yang halal dan mana yang tidak. Nah kan, ketika kita pakai kerudung, tanpa memperkenalkan pun, orang-orang baik di sini langsung menunjukkan mana halal food mana yang bukan. Jadi itu mungkin yang di maksudkan Al-Ahzab:59 “... yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu...”.

Mr. Lim bilang bahwa kami jangan berterimakasih dengan memberinya uang karena dia tak akan menerimanya. Dan menunjukkan bahwa diujung gang di depan sana ada es potong singapura yang enak. Sebelum akhirnya berpisah dia berpesan dengan bahasa melayu yang terbata-bata, “Jaga, take care, you punya dompet dan handphone ya? Bye..”. Aaah... Mengapa kami tak mentraktirnya beli es potong dan berfoto ya? Anyway, thank you Mr. Lim. Semoga mendapatkan balasanyang lebih baik.

Dan belanja dimulai. Sepertinya saya hanya akan beli cokelat saja, meskipun ibu bilang, ngga usah beli oleh-oleh, cukup pulang dengan selamat ke Jogja saja (kalimat paling romantis yang pernah saya dengar).  Banyak kok cokelat dengan logo halal, jadi ngga perlu khawatir. Bukan cokelat terkenal ngga apa-apa ya, yang penting berlogo halal. Hihi...

ADA APA DENGAN GEYLANG?

Setelah selesai berbelanja dan melihat-lihat, kami pun segera berjalan keluar mencari tempat makan. Dan pilihan kami jatuh di Naj Restaurant Bugis di North Bridge Road. Seperti biasa ngga di Indonesia ngga di sini saya selalu bingung memilih menu. (Apalagi memilih calon suami #eh?!). Akhirnya saya memilih Bugis Crush Chicken alias ayam penyet Bugis  dan teh tarik, habis  $6,5. Mas kasirnya berbahasa melayu, ternyata dari Malaysia. Ketika ditanya apakah bus ke Geylang lewat di bus stop depan? Dia malah bertanya nyari apa di Geylang? Di Bugis sini banyak kok hotel-hotel murah, kok milih hotel di sana? Windi tampak bertanya-tanya dengan jawaban masnya.

Hm... Maafkan ya Wind, saya sebenarnya sudah tahu dari googling sebelum berangkat ke sini kalau Geylang adalah red district-nya Singapura. (Kalau pengen tahu juga, silakan google sendiri dengan keyword Geylang, dan akan kamu jumpai banyak artikel di sana). Mba Madya juga sudah lebih dulu tahu dari teman-temannya yang biasa ke Singapura. Hehe... Kalau saya awalnya tanya mbah Google saja, dan tulisan mba Darling yang ini. Sempat khawatir juga tapi ngga lama, karena ada tulisan yang ini. Dan bismillah, semua akan baik-baik saja. Tapi sengaja ngga ngasih tahu Windi dari awal, biar dia ngga khawatir. 

Kami mulai bisa membaca petunjuk jalur bus di sana, lewat tutorial singkat Mr. Lim. Wawawa... xie xie Mr. Lim. Dari Bugis, kami naik bus jalur 63 dari bus stop di depan Bugis Street turun di Yiu Xiu Building di Sims Ave dan berjalan mengikuti peta yang dibuat Mr. Lim. Ya, peta adalah senjata paling penting, jadi jangan pernah lupakan note #2.2 ya? Malam hari di Geylang tampak lebih ramai dari siangnya. Kios-kios di sepanjang lorong ramai orang-orang yang duduk memenuhi kursi yang tersedia. Aku dan Windi sepertinya menjadi the only makhluk berjilbab yang berjalan malam-malam di area ini. Tapi semua baik-baik saja kok, ngga ada kejadian aneh atau gangguan sedikit pun yang menimpa. Bahkan pemandangan seperti yang tertulis di beberapa artikel yang sempat saya baca, tidak saya temui di sana. 

BUAH PLUM

Di perjalanan, mba Madya tergoda durian yang harganya $20. Dan mengajak kami membelinya. Sayang sekali, saya dan Windi bukan penggemar durian. Beruntung masnya penjual durian menawari mba Madya untuk mencicipinya.Lumayan, ngga perlu beli ya mba Madya? Sampai di depan lorong 14 kami mampir ke sebuah minimarket, dan menemukan buah plum seharga $1,9 untuk 5 buahnya. Aku dan mba Madya membelinya. Saya belum pernah mencoba buah ini. Buah ini mengingatkanku pada Minyul dan anak-anak Dad Where Are You Going season pertama, yang tampak sangat menyukai buah ini. Dan ternyata, memang enak rasanya seperti perpaduan apel dan pear.

Setelah membayar di kasir, kami pun kembali ke hotel untuk mandi, sholat, berhitung, ber-wifi ria mengontak keluarga dan sahabat di Indonesia, browsing peta dan rute transportasi esok hari, dan ... beristirahat untuk perjalanan berikutnya. Good night everyone...



Sunday, September 21, 2014

Keluar dari Indonesia

(Part 1 of 3 )

Judul di atas ngga cocok ya buat diposting di bulan Agustus, pada tahun ke 69 setelah Indonesia merdeka? Tapi percayalah, saya tidak sedang ingin merubah kewarganegaraan akibat pemilihan umum di Indonesia. Tulisan ini hanya akan mencatat cerita perjalanan saya, melangkahkan kaki keluar dari Indonesia untuk yang pertama.

Seperti sering saya katakan sebelumnya bahwa saya adalah seorang yang terlambat dalam banyak hal namun beruntung dalam banyak hal yang lainnya. Saat teman-teman saya sudah tersebar di seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu atau bekerja, saya malah baru bisa traveling ke negara tetangga di usia yang tak lagi muda (haha). Tertinggal dari keluarga PeKaDe yang sudah mengunjunginya dua tahun yang lalu.

Sebenarnya dua tahun yang lalu mba Jum dkk sudah mengajak ikut serta bersama mereka meskipun dalam voting saya memilih Bali sebagai tujuan pertama, yang bahkan belum terlaksana hingga tulisan ini dibuat (haha). Dan mba Jum malah sudah sampai di kedua-duanya. Baik Bali maupun Singapura. Wong, Bali yang di Indonesia saja belum pernah masak mau ke Singapura? Begitu dulu alasan saya *sok nasionalis*. Alasan lainnya? Karena mereka bersama keluarga sedangkan saya masih sendirian saja *curhat colongan*, selain itu juga harus ijin atau cuti kerja *sok rajin*. Haha... alasaaan...

Kali ini datang lagi kesempatan untuk pergi. Tapi, lagi-lagi ke Singapura bukan Bali. Ah... Maafkan saya mba Jum... maafkan saya Bali... saya akhirnya mengiyakan ajakan untuk perjalanan kali ini. Karena kali ini saya tak perlu ijin ataupun cuti. Teman kuliah yang mengajak ke sana. Awalnya kami berdiskusi berlima tetapi pada akhirnya kami hanya berangkat bertiga. Saya, Mba Madya, dan Windi.

Untuk pergi ke sana dokumen yang harus dipunya adalah paspor, yang kebetulan sudah saya miliki sejak setahun yang lalu, terinspirasi salahsatu tulisan Rhenald Kasali (meski tujuan kali ini masih ke negara yang ada bahasa Melayu-nya).Tak perlu membuat visa karena tak akan tinggal di sana lebih dari 30 hari. Karena ngga pake travel agent, langkah selanjutnya adalah browsing nyari tiket pesawat, penginapan, dan lokasi yang dituju. Berhubung waktunya ngga terlalu banyak sehingga menjadi cenderung tidak terlalu sabar dan jeli mencari, tak apalah tiket yang diperoleh tak semurah tiket promo yang diperoleh para backpackers sejati, dan itupun harus dari Jakarta, tapi... masih lebih murah daripada tiket ke Bali.

Urusan pembelian tiket pesawat dan penginapan pasrah ke mba Madya yang koneksi internetnya lancar jaya dan punya kartu BCA. Lokasi utama yang akan dituju adalah USS. Awalnya saya ragu dan merasa ngga terlalu cocok dengan wahana-wahana permainan semacam itu. Paling-paling ini adalah versi wah-nya dari Trans Studio Bandung yang kukunjungi tahun lalu. Tapi rasa penasaran membuatku setuju memasukkannya ke dalam daftar tujuan. Tinggal nyari tiket masuknya saja. Awalnya mau beli di Panorama, tetapi karena masih belum sreg, akhirnya saya mencoba browsing lagi dan ketemu web jalanjajansingapura.com. Akhirnya, saya coba me-whatsapp mba Darling si pemilik web untuk bertanya-tanya dan setelah didiskusikan dengan kedua travelmate saya, akhirnya deal, kami memesan tiket USS di mba Darling. Tapi karena pas hari-H beliau sedang di Jakarta, maka tiketnya akan diantarkan suaminya pas hari H di McD Changi.

Yeay... persiapan singkat telah selesai dan tinggal menunggu d-day.

Sabtu malam --- Selepas shalat Maghrib, diantar Ima dengan Beatnya menuju ke stasiun Tugu, menjemput Taksaka yang akan mengantarkanku dan Mba Madya ke Jakarta. Kata adik saya, gaya banget naik Taksaka mba? Biasanya paling pol naik Senja Utama? Soalnya ini tanggal berangkat dan travelmatenya istimewa. Pas masih dalam rangkaian arus balik lebaran, jadi kursinya udah pada penuh semua.Windi? Sudah di Bandung, dan akan berangkat dari sana.

Jadwalnya jam setengah delapan berangkat tetapi terpaksa mundur karena ada perbaikan teknis. Akhirnya jam sembilan malam baru bisa berangkat. Dan seperti biasa begitu ketemu kursi, tak berselang lama setelah ngobrol sana sini, mata pun terpejam meski sesekali terbangun dan berganti posisi, sementara mba Madya masih tampak asyik dengan tabnya. Hingga pagi mengantarkan kami ke Gambir.

Minggu pagi di Jakarta --- Windi beberapa kali mewhatsapp kami agar langsung ke bandara saja agar tak terjebak macet Jakarta. Karena katanya bisa-bisa empat jam baru sampai bandara. Alhasil, kami mengurungkan niat kami untuk mandi. Segera saja kami ke loket DAMRI mencari bus menuju bandara Soekarno-Hatta. Dan you know what? Windiiii... Ngga sampai sejam kami sudah sampai di terminal 2, padahal kami mengorbankan mandi pagi kami. (Emang biasanya mandi pagi? Haha.. Ssst!!).  Jam setengah delapan udah nyampai bandara dan toiletnya ngga didesain buat mandi. Yowis sambil nunggu Windi kami sarapan pagi ramesan yang harganya bisa buat makan berlima di Jogja.  Alhamdulillah...

Setelah Windi datang, kamipun masuk untuk check in dan bayar airport tax Rp 150.000.  Lalu menuju ke imigrasi, dapat cap departure dan segera menuju ke gate D4 menunjukkan boarding pass dan paspor. Saat security checking barang bawaan kabin, aku dan mba Madya lolos dengan aman, tapi Windi terpaksa merelakan Pond’s facial foamnya karena kemasannya lebih dari 100 ml.

Note #1.0: Jangan membawa minuman ke kabin, kalau botol kosongnya saja, boleh. Jika membawa kosmetik, bawalah dalam wadah max 100 ml per item. Lebih dari itu sebaiknya masuk ke bagasi atau ... akan disita petugas.

Kami masuk ke ruang tunggu dengan menunjukkan boarding pass dan kemudian diberi lembar embarkasi yang harus diisi dan diserahkan di imigrasi Singapura. Jam sebelas akhirnya pesawat membawa kami keluar dari Indonesia. See you Jakarta...

Wednesday, August 20, 2014

Virus Selfie dan Tour de Candi


Kalau kemaren-kemaren banyak dolan ke pantai-pantai cantik di Gunung Kidul (tapi kayaknya ngga sempat buat tulisan tentangnya di blog ini *sok sibuk*). Maka liburan kali ini temanya adalah candi. Yes, mahakarya bersejarah yang dibangun dari batu. Hm... berhubung ngga punya teman (yang bisa diajak), pada akhirnya teman terbaik saya adalah adik-adik tersayang yang selalu setia setiap saat (uri dongsaeng... saranghaeyo...). Oh iya, jika kamu ingin memperoleh informasi detail mengenai candi yang akan kami kunjungi, bukan di sini tempatnya. Karena tulisan ini hanyalah catatan perjalanan yang kami lakukan. Dan bisa jadi akan membosankan . Silakan googling-googling sendiri di internet untuk detail dan sejarah di baliknya. ^_^v. 


Hari itu 3 Juli 2014, Ramadhan hari kelima, kami berangkat kesiangan karena seperti biasa ada pertempuran kecil sebelumnya (halah), dan sampai di lokasi sekitar jam 11. Sampai parkiran sepi, hanya ada sekitar 5 motor termasuk motor kami di sana. Mobil pun ngga terlalu banyak. Segera saya membeli tiket untuk empat orang @Rp 25.000. Kemudian petugas memberikan kartu berwarna hijau yang akan dimasukkan ke dalam mesin untuk masuk ke lokasi. Tetapi kami juga masih diberikan karcis kertas tipis. Hm... Sampai di gerbang masuk, ternyata mesinnya belum berfungsi, jadi kartunya diberikan kepada petugasnya bersamaan dengan karcis. Hihi.. Segeralah kami berjalan naik melalui tangga.

Sampai di dalam seorang penjual minuman dengan hati-hati menawarkan dagangannya.
“Maaf, mba... kalau tidak sedang berpuasa warung kami di sebelah sana menyediakan minuman dan makanan...”
“Nuwun, pak... kami puasa”, jawab kami sambil tersenyum manis

Menuju perjalanan ke situs keraton, beberapa kali saya berhenti di gazebo yang tersedia di kanan kiri jalan, sekadar menunggu adik-adik yang memotret view kota, dan candi Prambanan di bawah sana, hingga narsis berselfie tanpa henti, yang ternyata menular. 

Semakin dekat menuju gerbang semakin panas terasa. Ya... jam 11 pas panas-panasnya. Memasuki gerbang pertama dan kedua kami dihadapkan pada hamparan rumput hijau dan pohon besar yang cantik. Menciptakan komposisi warna yang menarik. Melangkah ke sebelah kiri ada candi pembakaran, kemudian menuju ke lokasi beikutnya adalah pendopo pagelaran yang bersebelahan dengan keputren yang terdiri dari dua tempat dengan kolam berbentuk kotak dan lingkaran. Suasananya nyaman sekali di sana. Kami duduk sejenak, menikmati semilir angin, langit biru, dan buku. Kami melewatkan memasuki gua lanang dan gua wadon karena para partner sudah mulai kelelahan dan kehausan (woi... puasa... puasa...).

Kami pun keluar komplek situs keraton boko dan sholat dhuhur di mushola yang berdekatan dengan kandang rusa. Selesai shalat kami duduk2 dan tiduran di salahsatu gazebo. Melanjutkan membaca buku dan menyelesaikan jatah juz hari itu. Cukup lama kami di sana, hingga pengunjung yang tadi kami lihat masuk, mulai meninggalkan lokasi. Kami pun bersegera keluar. Di tempat parkir azan ashar pun berkumandang. Dan kami pun meninggalkan keraton boko yang semakin cantik ketika sore menjelang.


Sebulan kemudian, 3 Agustus 2014. Ima mengajak silaturahim ke rumah Ragil (teman kuliahnya) di Magelang. Sebelum puasa, ketika belum melahirkan, Ragil sempat main ke rumah tetapi ngga ketemu Ima. Jadilah kami berdua pergi ke sana naik motor lewat Kalibawang. Sekitar 45 menitan kami sampai di rumah Ragil yang ternyata kue lebarannya masih komplit. Jadi ketika mereka asyik reuni dan mengobrol saya bisa puas mencicipi satu per satu. Haha.

Ngga tahu kenapa, tapi saya sempat merasa pusing, tetapi setelah diminyaki, sholat dan makan siang akhirnya membaik (haha... pusing apa lapar mba?). So... setelah pamit, jadilah kami menuju ke Candi Borobudur yang ternyata masih ramai pengunjung. Dari rumah Ragil di Citran kami melajukan motor kami ke arah Borobudur. Setelah menunaikan shalat Asar di mushola penitipan sepeda motor, kami pun menuju ticket box dan membeli dua tiket @Rp 30.000 dan segera memasuki lokasi candi.

Menuju ke candi, di salahsatu panggung, sedang berlangsung sebuah pertunjukan kesenian rakyat. Kami melihatnya sambil berjalan. Dan sore itu ramai pengunjung yang memadati Borobubudur, mungkin karena ini hari terakhir libur lebaran sebelum masuk kantor atau sekolah. Terakhir kali ke candi ini kalau ngga salah tahun 90an ketika ikut rombongan piknik muda-mudi dusun Gedangan.

Kami menyusuri masing-masing lantai Borobudur dan mencoba membaca relief yang ada. Tetapi gagal. Beruntung banyak turis asing yang membawa tour guide yang menjelaskan kisah relief candi. Sesekali ketika kami berada di dekat mereka ikut mendengar penuturan tour guide mereka, yang berbahasa Inggris. Terus menuju ke puncak candi yang banyak sekali pengunjung disana sekedar duduk melepas lelah, maupun mengabadikan kenangan.

Pada perjalanan turun untuk keluar, ada panggilan informasi adanya anak yang terjatuh dari tangga saat tak didampingi orangtuanya. Hmm.. padahal tangga dari batu ini lumayan tinggi, menyesuaikan tinggi orang zaman dahulu kali ya? Dan sampai di pelataran candi, ada ambulans yang kemungkinan membawa pertolongan untuk anak yang terjatuh tadi. Tapi suasananya tenang, tidak ada tangisan ataupun jeritan histeris. Semoga adiknya baik-baik saja. Amin

Beranjak senja, pengunjung pun diharapkan segera meninggalkan area candi. Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya kami menemukan tempat parkir kami. Bapak pemilik rumah parkir bercerita kalau hari sebelumnya jalan di depan ini penuh dengan kendaraan pengunjung, untuk menyeberang pun sangat susah. Beruntung kami datang hari ini yang meskipun masih ramai tetapi cenderung lancar. Mari pulang ...


Tidak direncanakan. Satu siang setelah mendengar kisah yang melelahkan pikiran, aku dan Risna pun bermaksud jalan-jalan. Nisa dan Ima yang sudah duluan mengajak ke Candi Ijo, tapi setelah dipikir-pikir kami pun memutuskan ke Prambanan saja. Siang itu, 16 Agustus 2014,  jam 2  siang kami pun menuju ke Prambanan melewati jalan Solo.

Kami tiba di sana lebih dulu dari Nisa. Akhirnya kami ke toilet dan mencari mushola. Setelah selesai sholat, mereka berdua datang dan segera saja kami membeli tiket seharga @ Rp 30.000, dan segera masuk menuju ke candi. Matahari masih bersinar terik di arah barat, membuat silau pengunjung yang berjalan dari timur. Ramai sekali di sana. Banyak turis asing berombongan didampingi para tour guide, sayangnya kali ini banyak yang bukan bahasa Inggris jadi tidak bisa ikut nimbrung mendengar kisahnya dari sebelah.  Bahasa yang terdeteksi telinga diantaranya Perancis, Jepang, China, dan Korea. Ah, jadi pengen menguasai banyak bahasa (telat banget ya pengennya?).

Di komplek candi pertama adalah candi Hindu yang dipersembahkan bagi tiga dewa utama agama Hindu yaitu Siwa, Brahma dan Wisnu.Selesai di kompleks ini kami pun melanjutkan ke arah utara menuju candi lumbung dan candi bubrah. Menuju ke tempat ini hari sudah sangat sore. Tapi merasa sayang, akhirnya kami pun melanjutkan hingga ke ujung yaitu di Candi Sewu yang merupakan candi Budha. Sampai di sana sepi saudara, ada serombongan turis yang duduk di taman di samping komplek candi Sewu. Dari gerbang timur ada beberapa turis asing dan serombongan wisatawan nusantara yang memasuki komplek candi ini. Kami berempat hanya melihat dari luar saja karena  semburat merah mulai tampak di langit senja seiring azan maghrib yang membahana.

Kami pun mempercepat langkah agar segera bertemu penjaga parkir yang setia menunggu pengunjung terakhir.

Rafting Sungai Elo

Berawal dari pesan pak Parlan di grup whatsapp yang menginfokan agar bagi yang mau ikut rafting dimohon mendaftarkan diri, saya, tanpa tahu jalan ceritanya langsung saja menunjukkan jari. Ternyata oh ternyata, raftingnya adalah acara bersama seantero kantor, bukan acara bidang kami saja. Setelah mengetahui hal tersebut, berhubung saya sedang menjadi warga nonaktif, dengan sangat terpaksa saya pun membatalkan pendaftaran. Hehe...
Hingga pada suatu hari, beberapa saat sebelum hari-h, saya diwhatsapp bu Nia dan bu Ririn bahwa saya didaftarkan rafting dan diminta datang on time pada hari-h. Saya pun menjadi malu tapi mau. Gara-gara kepedean mau ikut. My ibu kabid and pekade family are the best. I’m feeling loved. Dan, beginilah kisahnya...

H-1 Sepulang Kuliah
Setelah di whatsapp mba Jum jadwal rafting dan tatatertibnya, dan seragam kaos yang dititipkan ke pak Parlan yang baik hati, sore hari sepulang kuliah mampirlah saya ke rumah, lebih tepatnya ke tokonya untuk mengambil kaos seragam. Ngobrol sebentar, dan langsung pamit karena sudah Maghrib.

Hari-H, Sabtu, 17 Mei 2014
Pagi-pagi setelah bersiap-siap saya bersegera melajukan severus ke kantor karena jam 7 harus berkumpul di sana. Setelah berkumpul semua, kami pun mulai naik bus yang telah disediakan, setelah diabsen -meski namaku tak disebut- bus pun segera melaju ke arah Magelang. Kami berhenti di RM. Progosari untuk coffee break dan persiapan  sebelum menuju ke sungai.  Instruktur kami memimpin pemanasan dengan membuat lingkaran besar di depan rumah makan ini. Setelah selesai kami pun menuju ke sungai Elo dengan menggunakan angkot yang disediakan bersama perahu karet yang telah terikat di atapnya. Tak lama kami pun sampai di start arung jeram. Setelah memperoleh helm, pelampung, dayung, dan  pengarahan, kami pun segera menuju ke sungai bersama kelompok masing-masing yang terdiri dari enam orang dalam satu perahu. Saya satu perahu dengan Riri, Bu Eny, Pak Eko, Pak Yos dan putrinya. 

Dan keseruan pun dimulai. Di jalur yang sungainya tenang kami dibiarkan untuk nyebur ke sungai. Saya yang ngga bisa renang awalnya ragu-ragu, tetapi pengen banget nyoba. Ternyata hanya dengan telentang saja, dengan bantuan pelampung yang dipakai, saya bisa mengapung di atas sungai. Dan sesekali pemandu  menabrakkan perahu kami ke bebatuan di antara jeram yang membuat kami berteriak-teriak kegirangan. Meski tak seekstrim grup sebelah yang perahunya dibalikkan, tetapi tetap saja... menyenangkan.


Tak terasa 12,5 km sungai Elo telah kami susuri dengan menyenangkan. Dan kami pun kembali ke RM. Progosari dengan hati riang.  Setelah mandi, sholat dan makan siang, maka tibalah waktunya pulang. Terimakasih semuanya ...

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...