Part 2 of 3
Minggu siang... Alhamdulillah,
pesawat kami tiba dengan selamat di Changi. Langsung dapat sms promo paket roaming
dari Telkomsel. Saya segera memberi kabar orang rumah dulu bahwa sudah tiba di
negeri orang dengan selamat. Kena Rp 5.000/sms.
Bandaranya cantik. Mampir dulu ke toilet yang ternyata antri. Sambil
nyari-nyari water tap buat isi botol minum, tapi ngga ketemu, padahal ternyata
persis di sebelah pintu. Berhubung kami bertiga sama-sama belum pernah ke sini,
kami asal mengikuti saja orang-orang yang tadi satu pesawat dengan kami naik
skytrain menuju T2 ke bagian imigrasi. Ramainya... Deg-degan... teringat pak
Roso yang katanya sempat kena random check dua tahun lalu yang memakan waktu pemeriksaan
yang sedikit lebih lama. Tiba giliranku... alhamdulillah... aman-aman saja.
Cuma say hi, lihat muka, scan paspor, dicap visit pass, lembar embarkasi
kedatangan diambil dan potongan lembar kepulangan diserahkan bersamaan dengan
paspor, selesai.
Note
#2.1. Simpan baik-baik potongan lembar embarkasi tersebut, jangan sampai hilang
karena nanti akan diserahkankan kembali di imigrasi ketika meninggalkan
Singapura.
Saatnya
mencari McD untuk ketemu mas Rully (suami mba Darling), ngambil pesanan tiket
USS kami. Setelah ketemu, dan ngobrol sebentar, mas Rully pamit duluan. Berhubung
merasakan lapar, kami memutuskan sekalian saja makan di sini, dan habis sekitar
$4,9.
Awalnya
kami merencanakan naik MRT, tapi kata mas Rully, hotel kami, jauh dari stasiun
MRT. Akhirnya kami putuskan naik taxi saja dari sini. Dan untuk itu kami harus antri
di taxi stand. Dan setiap jenis antrian di sana ada jalur prioritas bagi lansia,
expectant mother, dan difabel. Tiba gilirannya kami pun masuk taksi menuju ke Geylang.
Here we go... Wawawa... rapinya jalanannya nggak ada semrawut
reklame, baliho, dan spanduk-spanduk promosi di sepanjang jalan. Hingga tibalah
kami di Fragrance Hotel – Pearl dengan biaya
taxi $17. Mba Madya dengan sigap segera ke resepsionis yang ternyata bisa berbahasa melayu. Setelah selesai urusan check-in segera kami masuk
kamar, unpacking, beberes, shalat, dan ready to go...
Mr. Lim yang Baik Hati
Keluar
dari hotel, rencana awalnya kami mau langsung ke Merlion Park dan sekitarnya. Tak
tahu ke mana arahnya sementara smartphone ngga bisa leluasa akses Google map
karena ga beli paket data roaming yang Rp 150.000/hari. Dan parahnya malah melupakan
hal penting berikut ini:
Note#2.2:
Ambil peta gratis di Changi. (Kok bisa lupa ya?Padahal ada kata gratis di
depannya?)
Akhirnya
kami berjalan keluar dari lorong 14, berencana mencegat taksi lagi. Tapi tak
berhasil menghentikan satu taksi pun. Atau harusnya di taxi stand ya? Windi
mengajak ke Bugis street saja dulu. Yo wis, yuk! Akhirnya dia bertanya ke uncle
di dekatnya. Dan menyarankan kami naik bus saja, karena taksi too expensive for student macam kalian
(haha...). Kami berjalan ke lorong 18,
tempat bus stop berada. Banyak orang di sana. Kami mencoba membaca rute dan
jalur bus yang ada, tapi tak mampu memahaminya. Kemudian mondar-mandir tak
jelas. Hmm... Akhirnya Windi kembali bertanya Bugis street ke orang India di
sebelahnya, sayangnya dia bilang ngga tahu dan langsung berlalu. Tapi...
Tiba-tiba orang chinese di sebelah orang India ini bertanya ke kami (yang
terlihat kebingungan kali ya?):
“Are
you looking for direction?”, ujarnya
“Yes...”,
jawab kami kompak bak paduan suara
Kemudian
dengan bahasa Inggris Singapura, Bapak ini menunjukkan jalur bus untuk ke Bugis
Street, bisa 51 atau 63. Bayar bisnya bisa pakai EZLink atau cash, dengan cara memasukkan
uangmu ke kotak di sebelah pak sopir.
Note
#2.3. Jika ngga punya kartu EZLink untuk membayar bus, siapkan selalu uang pecahan
kecil untuk membayar secara cash, karena pak sopir ngga akan pernah ngasih
kembalian. Ambillah karcis yang keluar, dan simpan, sewaktu-waktu ada inspektur
yang menanyakan.
Jalur
51 berhenti di depan kami dan kami pun masuk ke dalam bus tingkat ini, Mba
Madya menyerahkan dolarnya ke pak sopir, dan dengan polosnya aku tidak membayar karena tadi
nitip $35 ke mba Madya, karena berpikir akan lebih gampang bayar
yang kecil-kecil sekalian dari dompet yang sama tanpa harus menyiapkan pecahan
yang banyak (*freerider *beralasan). Tetapi pas udah turun ternyata mba Madya
bilang kalau aku ngga bayar bus, karena ternyata Windi dan mba Madya masing bayar
sendiri-sendiri. Haha... Tapi kok tiketnya dapat empat? Ya sudahlah, anggap saja rejeki
saya hari ini. Hihi...Okelah, berarti Nink, yang berikutnya bayar sendiri ya,
siapkan recehanmu.
Dan
ternyata bapak yang akhirnya kami tahu bernama Mr. Lim, naik bis jalur ini juga.
Dia mengajak kami naik ke lantai atas bis. Dan menerangkan berbagai hal. Dan
ketika hampir tiba di bus stop...
Note
#2.4: Pencet tombol stop pada tiang terdekatmu. (by: Mr. Lim). Ngga perlu
mukul-mukul koin ke jendela dan bilang kiri-kiri ke pak sopir ...
Mr. Lim
bilang, kali ini dia akan ikut turun di Bugis dan menunjukkan tempat-tempat di
sini ke kami. Owh, thank you Mr. Lim. That’s kind of you. Dari bus stop ini,
kami menyeberang jalan ke Bugis Junction. Ketika menyeberang ...
Note
#2.5: Kalau sendirian, jangan lupa pencet tombol di traffic light atau kamu
akan menunggu lampu merah hingga jamuran. Kecuali ada banyak orang, kamu bisa tinggal
ikut-ikutan. Tapi jangan lupa lihat timernya untuk menentukan kecepatan
langkahmu. (by: Mr. Lim)
Di
Bugis Junction yang bersebelahan dengan Intercontinental Hotel Singapore, kami
menyeberang satu jalan lagi menuju Bugis Street, pasar malamnya Bugis, ada
macam-macam oleh-oleh di sana. Dari gantungan kunci hingga cokelat. Di ujungnya
Mr.Lim menunjukkan foodcourt dan tempat makan, mana yang halal dan mana yang
tidak. Nah kan, ketika kita pakai kerudung, tanpa memperkenalkan pun, orang-orang
baik di sini langsung menunjukkan mana halal food mana yang bukan. Jadi itu
mungkin yang di maksudkan Al-Ahzab:59 “... yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu...”.
Mr.
Lim bilang bahwa kami jangan berterimakasih dengan memberinya uang karena dia
tak akan menerimanya. Dan menunjukkan bahwa diujung gang di depan sana ada es
potong singapura yang enak. Sebelum akhirnya berpisah dia berpesan dengan
bahasa melayu yang terbata-bata, “Jaga, take care, you punya dompet dan
handphone ya? Bye..”. Aaah... Mengapa kami tak mentraktirnya beli es potong dan
berfoto ya? Anyway, thank you Mr. Lim. Semoga mendapatkan balasanyang lebih baik.
Dan
belanja dimulai. Sepertinya saya hanya akan beli cokelat saja, meskipun ibu
bilang, ngga usah beli oleh-oleh, cukup pulang dengan selamat ke Jogja saja
(kalimat paling romantis yang pernah saya dengar). Banyak kok cokelat dengan logo halal, jadi
ngga perlu khawatir. Bukan cokelat terkenal ngga apa-apa ya, yang penting berlogo
halal. Hihi...
ADA APA DENGAN GEYLANG?
Setelah
selesai berbelanja dan melihat-lihat, kami pun segera berjalan keluar mencari
tempat makan. Dan pilihan kami jatuh di Naj Restaurant Bugis di North Bridge
Road. Seperti biasa ngga di Indonesia ngga di sini saya selalu bingung memilih
menu. (Apalagi memilih calon suami #eh?!). Akhirnya saya memilih Bugis Crush
Chicken alias ayam penyet Bugis dan teh
tarik, habis $6,5. Mas kasirnya
berbahasa melayu, ternyata dari Malaysia. Ketika ditanya apakah bus ke Geylang
lewat di bus stop depan? Dia malah bertanya nyari apa di Geylang? Di Bugis sini
banyak kok hotel-hotel murah, kok milih hotel di sana? Windi tampak
bertanya-tanya dengan jawaban masnya.
Hm...
Maafkan ya Wind, saya sebenarnya sudah tahu dari googling sebelum berangkat ke
sini kalau Geylang adalah
red district-nya
Singapura. (Kalau pengen tahu juga, silakan google sendiri dengan keyword
Geylang, dan akan kamu jumpai banyak artikel di sana). Mba Madya juga sudah lebih
dulu tahu dari teman-temannya yang biasa ke Singapura. Hehe... Kalau saya awalnya
tanya mbah Google saja, dan tulisan mba Darling yang
ini. Sempat khawatir juga
tapi ngga lama, karena ada tulisan yang ini. Dan bismillah, semua akan baik-baik
saja. Tapi sengaja ngga ngasih tahu Windi dari awal, biar dia ngga khawatir.
Kami
mulai bisa membaca petunjuk jalur bus di sana, lewat tutorial singkat Mr. Lim.
Wawawa... xie xie Mr. Lim. Dari Bugis, kami naik bus jalur 63 dari bus stop di
depan Bugis Street turun di Yiu Xiu Building di Sims Ave dan berjalan mengikuti
peta yang dibuat Mr. Lim. Ya, peta adalah senjata paling penting, jadi jangan
pernah lupakan note #2.2 ya? Malam hari di Geylang tampak lebih ramai dari
siangnya. Kios-kios di sepanjang lorong ramai orang-orang yang duduk memenuhi
kursi yang tersedia. Aku dan Windi sepertinya menjadi the only makhluk
berjilbab yang berjalan malam-malam di area ini. Tapi semua baik-baik saja kok,
ngga ada kejadian aneh atau gangguan sedikit pun yang menimpa. Bahkan
pemandangan seperti yang tertulis di beberapa artikel yang sempat saya baca,
tidak saya temui di sana.
BUAH PLUM
Di
perjalanan, mba Madya tergoda durian yang harganya $20. Dan mengajak kami
membelinya. Sayang sekali, saya dan Windi bukan penggemar durian. Beruntung
masnya penjual durian menawari mba Madya untuk mencicipinya.Lumayan, ngga perlu
beli ya mba Madya? Sampai di depan lorong 14 kami mampir ke sebuah minimarket,
dan menemukan buah plum seharga $1,9 untuk 5 buahnya. Aku dan mba Madya
membelinya. Saya belum pernah mencoba buah ini. Buah ini mengingatkanku pada Minyul
dan anak-anak Dad Where Are You Going season pertama, yang tampak sangat
menyukai buah ini. Dan ternyata, memang enak rasanya seperti perpaduan apel dan
pear.
Setelah
membayar di kasir, kami pun kembali ke hotel untuk mandi, sholat, berhitung,
ber-wifi ria mengontak keluarga dan sahabat di Indonesia, browsing peta dan
rute transportasi esok hari, dan ... beristirahat untuk perjalanan berikutnya. Good
night everyone...